Jadi biarkan saja
.: Unknown -
Kita seperti dua bait sajak tanpa koma spasi,susah dibaca dimengerti;jadi biarkan saja berantakan rindunya:
di ranjang
di ruang makan
di halaman,
atau biarkan saja ia terlantar di halte tanpa bus terakhir yang malang.
Anak petaka dan hujan
.: Unknown -
Pagi ini hujan bersama lelah menghujam ke bumi,
wajah anak petaka tertunduk lesu di bawah pohon angsana-
bilakah ia berjalan dengan matahari tegak di kepalanya..?
masa silam bertiup dari balik dedaunan..
Rindu yang diam
.: Unknown -
Halaman rumah kita lengang,
langit merah menangkap burung gereja yang terbang gelisah_dari balik jendela,angin meloncat ke pepohonan menggugurkan daun akasia.
_tatapku membatu pada kisah kepergianmu
Kekasih,
sepi dari perjalanan ini serupa waktu yang menjelma sepasang sepatu.lalu pergi meninggalkan jejak yang sebentar hilang saat gelap mengerjap.
Aku melihatmu menggelar rindu yang diam;_membilas wajahku pada pagi,dan mengusap matamu pada do'a,
menetes hujan itu dari langit seperti air mataku
langit merah menangkap burung gereja yang terbang gelisah_dari balik jendela,angin meloncat ke pepohonan menggugurkan daun akasia.
_tatapku membatu pada kisah kepergianmu
Kekasih,
sepi dari perjalanan ini serupa waktu yang menjelma sepasang sepatu.lalu pergi meninggalkan jejak yang sebentar hilang saat gelap mengerjap.
Aku melihatmu menggelar rindu yang diam;_membilas wajahku pada pagi,dan mengusap matamu pada do'a,
menetes hujan itu dari langit seperti air mataku
Ia sebuah penantian
.: Unknown -
ia senang duduk berdua dengan sepi sampai pagi jatuh didepan pintu kamarnya,
matanya yang bulat sesekali meteskan airmata melihat potret kekasih yang ia nanti kepulangannya
_lampu kamar mulai redup,wajahnya terlihat menunduk membaca diary sunyi.
"siapa tahu ada satu rindu terselip di halamannya"
malam berlalu lebih cepat dari biasanya,suara angin berbisik pada daun jendela mengisyaratkan pagi telah datang dengan warna rindu yang masih kemarin,
ia menaruh diarynya lalu melihat kearah pintu seperti menangkap bayang kekasihnya hadir lewat semerbak pagi,
hari merangkak naik,kalender seperti menujuk kesatu arah,kepulangan nafas yang di kasihinya,
angka angka lalu begitu saja,
waktu-waktu singgah dengan wajah gelisah,
pecah,tangisnya bersama gerimis yang berdesing di halaman rumah,mengalir kejalan berwarna abu tua,
semuanya behenti pada satu sisi,pada kenyataan cinta adalah sebuah penantian panjang,sebuah keputusan dengan ribuan desah tangis di tiap jalannya
hari merangkak naik,kalender seperti menujuk kesatu arah,kepulangan nafas yang di kasihinya,
angka angka lalu begitu saja,
waktu-waktu singgah dengan wajah gelisah,
pecah,tangisnya bersama gerimis yang berdesing di halaman rumah,mengalir kejalan berwarna abu tua,
semuanya behenti pada satu sisi,pada kenyataan cinta adalah sebuah penantian panjang,sebuah keputusan dengan ribuan desah tangis di tiap jalannya
Serupa Embun
.: Unknown -
Wajahnya menetes dari langit,
serupa embun,
matanya laut
membirukan rindu;menderaskan gelisah gerimis senja
rambutnya gelombang yang sering menyisir tepian hati.
ia perempuan yang sering menitipkan detak jantungnya pada biru samudera,
;seperti sepasang camar yang bernyanyi di cakrawala mencipta warna bianglala
serupa embun,
matanya laut
membirukan rindu;menderaskan gelisah gerimis senja
rambutnya gelombang yang sering menyisir tepian hati.
ia perempuan yang sering menitipkan detak jantungnya pada biru samudera,
;seperti sepasang camar yang bernyanyi di cakrawala mencipta warna bianglala
Langganan:
Postingan (Atom)
Asrep ngungkuli toya iku sabar


